Tsutomu-Yamaguchi-Japanes-001

Fakta ilmiah mengenai keberuntungan

Tsutomu Yamaguchi (1916-2010) diakui sebagai salah satu orang yang paling sial di dunia karena mengalami dua kali pemboman atom oleh Amerika Serrikat di Jepang. Setelah selamat hanya dengan luka ringan pada pemboman pertama di Hiroshima pada tanggal 6 Agustus 1945, keesokan harinya dia pergi ke Nagasaki dan juga menjadi korban pengeboman kedua.

Jason dan johny lawrence, Turis dari inggris sedang berlibur di New York ketika seluruh kota (dan dunia) digemparkan dengan tragedi serangan 11 September ke gedung WTC dan sejumlah tempat kepentingan Amerika serikat. Banyak orang menganggap bahwa berlibur disana bertepatan dengan kejadian itu adalah kesialan terendiri. Namun empat tahun kemudian di kota mereka sendiri di London terjadi serangan terorisme paling buruk dalam sejarah inggris pada 7 juli 2005 yang menargetkan sistem transportasi kota dan menewaskan 52 orang. Masih kurang sial, liburan ke Mumbai India tiga tahun kemudian juga membuat mereka terjebak di tengah aksi bom dan penembakan yang menewaskan puluhan orang.

Selain kesialan ekstrim yang disebut diatas dalam sehari hari kita mendapati cerita bagaimana orang orang tertentu mengaku diliputi kesialan seumur hidupnya, atau sebaliknya, ada orang orang tertentu yang selalu mendapatkan keberuntungan. Ada apakah dibalik semua ini? Murni keberuntungand ari lemparan dadu nasib atau ada faktor lain dibaliknya? Apakah dewi fortuna memang ada dan dia pilih kasih?

Richard wiseman (1997) melakukan penelitian mengenai Psikologi keberuntungan pada 1000 orang yang mengaku diri mereka masuk dalam kategori orang beruntung dan tidak beruntung. Beberapa diantaranya merasa memiliki keberuntungan dan ketidak beruntungan dalam kadar tertentu dan kadang kala… bidang tertentu. Salah seorang partisipan penelitian bernama Susan, perawat berusia 34 tahun merasa selalu sial dalam urusan percintaan. Pada suatu kecan buta, teman kencannya terlibat kecelakaan motor parah pada saat dia menuju tempat yang dijanjikan. Kencan selanjutnya dengan orang lain, si pria menabrak pintu kaca restoran hingga hidungnya patah. Beberapa tahun kemudian ketikka susan menemukan calon suami yang akan dinikahinya, gereja tempat mereka akan menikah mengalami kebakaran hebat. Diluar itu, susan juga menceritakan berbagai jenis kecelakaan dan kesialan yang menimpa dirinya. Pernah dalam perjalanan sejauh 1,5 mil dia terlibat dalam 8 kecelakaan.

Pertanyaannya, apakah keberuntungan dan kesialan secara sederhana merupakan probabilitas, ataukan ada faktor psikologis yang berpengaruh dan mempengaruhi keberuntungan dan kesialan tersebut? Richard mendesain penelitian untuk meneliti hal tersebut. Masing mmasing dari subjek penelitian diberikan satu koran dan diminta untuk menghitung berapa banyak jumlah foto yang ada dalam koran tersebut. Sederhana, bukan? Satu yang mereka tidak ketahui, didalamnya terdapat “kesempatan” dimana Richard telah memasang iklan di halaman tengah koran tersebut hingga setengah halaman penuh yang bertuliskan “Menangkan 100 pounsterling dengan menunjukkan iklan ini pada peneliti yang memberi anda koran ini”. Hasilnya? Orang orang yang mengaku memiliki nasib sial cenderung tidak memperhatikan iklan tersebut. Mereka cenderung fokus pada tugas menghitung jumlah foto sehingga melewatkan kesempatan yang mereka tidak duga untuk menddapatkan uang dalam jumlah yang signifikan. Sebaliknya, orang orang yang beruntung lebih rileks dalam menjalani tugasnya dan mampu melihat kesempatan.

Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa orang orang yang beruntung cenderung bersikap optimis, penuh energi, dan terbuka terhadap segala kesempatan, pola pikir, dan pengalaman. Dan secara kontras, orang orang yang secara nasib sering mengalami ketidak beruntungan lebih bersikap pesimis, terlalu fokus, ceroboh, mudah gugup, dan sering tertutup pada ide ide baru.

Penelitian serupa dilakukan oleh Jayanti Chotai, psikolog dari Umea University Hospital di Swedia. Dari sampel 2000 orang disebar kuisioner untuk mengetahui kadar “sensation seeker” dari masing massing orang tersebut. Ini meliputi bagaimana mereka terbuka untuk melakukan hal hal baru, bagaimana mereka menikmati film yang pernah mereka tonton,apakah mereka terbuka terhadap tantangan, dan seterusnya. Nilai yang diperoleh kemudian di lakukan pengujian korelasi terhadap bulan kelahiran mereka. Ini untuk mengetahui bahwa secara keseluruhan, apakah kapan seseorang lahir berkorelasi dengan keberuntungan dan sikap. Hasilnya cukup menarik. Meskipun kecil, ditemukan korelasi bahwa orang orang yang lahir di musim panas cenderung ekstovert, betah menonton film yang pernah mereka tonton, gemar terhadap tantangan adrenalin, gemar bertemu orang orang baru dan sebaliknya, orang orang yang lahir di musim dingin cenderung lebih suka bergaul dengan kawan kawan lama, agak tertutup dengan hal hal yang baru.

Melihat potensi menarik dari dua hasil penelitian ini, Richard dan Jayanti bekerjasama mendesain penelitian yang melibatkan sampel yang jauh lebioh besar demi mendapatkan hasil yang lebih reliabel. Memanfaatkan festival sains di Scotlandia pada tahun 2004, mereka berhasil mengumpulkan 40 ribu sampel data. Data itu terdiri dari tanggal lahir dan serangkaian kuisioner untuk mengetahui kecenderunagan karakter dan pendapat apakah masing masing orang cenderung merasa dirinya selalu beruntung atau selalu sial.

Hasilnya sangat menarik. Mereka yang lahir di musim panas (Maret hingga agustus) cenderung orang yang berani mengambil resiko dan merasa selalu beruntung, sementara mereka yang lahir di musim dingin secara signifikan merasa sering sial. Orang yang lahir di bulan April, Mei, dan Juli adalah bulan dengan prosentase keberuntungan tertinggi, sementara Oktober dan Februari adalah bulan dengan tingkat keberuntungan terendah.

Ada beberapa penjelasan yang masuk akal mengenai hal ini. Salah satu yang mendapat banyak persetujuan adalah bahwa bayi yang lahir di musim dingin cenderung lahir di lingkungan dan suasana yang lebih keras sehingga membuat mereka lebih tergantung pada pengasuhnya pada masa bulan bulan pertama pertumbuhan. Ini membuat kecenderungan introvert dan membuatnya dekat pada orang orang tertentu. Berbeda dengan bayi yang lahir di musim panas, terutama liburan dalam suasana santai dan ceria.

Sebagaimana science pada umumnya, penjelasan diatas mengenai temperatur dan cuaca sangat terbuka kemungkinan untuk diuji ulang. Misal dengan melakukan penelitian dengan skala yang sama atau lebi besar di negara dengan pola musim yang berbeda. Negara yang dekar dengan kutub utara memiliki pola musim yang hampuir berkebalikan dengan negara yang dekat dengan kutub selatan. Ketika penelitian serupa dilakukan ulang di New Zealand, hasilnya mengukuhkan penjelasan mengenai temmperatur dan musim. Dimana orang yang lahir di musim panas lebih merasa hidupnya penuh dengan keberuntungan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s