You are currently browsing the monthly archive for Oktober 2008.
Monster ini datang tempo hari. dikenal sebagai Rubik’s Revenge atau Rubik’s 4×4x4. Berbeda dengan Rubik’s cube (3×3x3), dalam kondisi teracak, sulit untuk menentukan warna yang seharusnya berada di sisi tertentu. Secara teori, menyelesaikan rubik jenis ini adalah:
1. Membangun warna center berdimensi 2×2 top, botom, diikuti keempat warna lainnya.
2. Menyatukan warna edge sehingga membentuk pasangan edge.
3. Menyelesaikan seperti 3×3x3
4. Menyelesaikan parity.
Dari keempat langkah tersebut, wajar jika parity dikenal sebagai monster yang sebenarnya. Alogaritma untuk menyelesaikan parity dikenal panjang dan rumit untuk setiap kasusnya. Contaoh : Parity untuk mem’flip’ pasangan edge : l2 B2 l U2 l U2 (x’) U2 l U2 l’ U2 l U2 l2 U2 dan r2 B2 r’ U2 r’ U2 (x’) U2 r’ U2 r U2 r’ U2 r2 U2 r2 U2 r2 U2 u2 r2 u2 (x’) r2 U2 r2 U2 u2 r2 u2. (terimakasih kepada Pak Teguh atas koreksinya)
Cukup bikin males….Apalagi, dengan besarnya cube yang menyusahkan untuk fingertrick serta panjangnya alogaritma, bisa dipastikan ini akan mengkonsumsi waktu yang cukup banyak dalam speedsolving. Apalagi, kemungkinan munculnya parity adalah sekitar 50:50. Ini artinya 2 speedcuber dengan average solving yang sama bisa kalah/menang karena beruntung mendapatkan parity case…..
Dalam dua hari ini : average solving saya jatuh pada 9:38 sec (5x solving)
Sementara rekor terbaiknya adalah 7:44 sec
Permasalahan utamanya adalah cube yang masih seret meskipun sudah diberi sedikit pelumas, sehingga banyak waktu terbuang karena rubik macet.
Okey..cukup untuk yang pusing2. Sekarang untuk yang lucu dan imut…yakni Rubik’s junior 2×2x2:
Benda lucu ini, bagi beberapa orang yang belum pernah mencoba memainkannya mungkin terkesan mudah. Kenyataannya tidaklah demikian, menyelesaikan junior cube tidak banyak perbedaan dengan menyelesaikan Rubik’s 3×3x3.
Alogaritma yang digunakan untuk menyelesaikan jenis rubik ini pun tidak jauh berbeda dengan alogaritma 3×3x3. Perbedaannya adalah kita tidak perlu mengkhawatirkan edge karena setiap kepingnya adalah corner.
Dalam gambar disamping bisa kita kenali bahwa Rubik’s Junior keluaran Rubik’s company memiliki warna kuning bersampingan dengan warna putih yang artinya kubus ini menganut Japanese color scheme. Cukup aneh mengingat untuk Rubik’s cube (3×3x3) menggunakan BOY (Western) color scheme yang berarti putih berseberangan dengan kuning, merah dengan orange, hijau dengan biru.
Rubik’s junior memiliki sistem mekanis yang jauh berbeda dengan Rubik 3×3x3. Oleh karena itu, untuk memutarnya dengan cepat cukup sulit, sementara melumasinya juga tidak semudah melumasi Rubik 3×3x3. Average sementara untuk menyelesaikan Rubik Kecil ini adalah 40 detik. 5 detik lebih lama dari waktu rata rata saya untuk menyelesaikan Rubik 3×3x3. Sementara waktu terbaiknya adalah 28 detik, 5 detik lebih lama dari waktu terbaik saya dalam menyelesaikan rubik 3×3x3 yakni 23.00 detik.
By the way, ada insiden kecil semalam yang cukup bikin pusing. Karena sering macet pada saat diputar, saya mencoba untuk sedikit melakukan tekhnik ‘break’ seperti yang biasa dilakukan terhadap rubik’s cube yang baru. Yang terjadi adalah, Seluruh kepingnya berhamburan. Berikut mekanis mekanis kecil didalamnya yang berjumlah belasan. Setelah beberapa jam mencoba memperbaikinya akhirnya saya menyerah. Dan baru keesokan paginya mengobrak abrik google untuk mendapatkan panduan cara memperbaikinya. Untung berhasil… Fyuuuuh….
Satu pelajaran berharga:
Jangan melakukan break pada Rubik’s cube junior!!!!
atau akan berakhir seperti ini:
Rekor memecahkan rubik saya naik lagi…. yang tadinya 25.05 detik (beberapa hari lalu) sekarang jadi 23.00 detik. Angka yang cantik. Sementara rata rata 10 dari 12nya tidak banyak berubah. Masih belum mencapai sub 30 detik.
Pada saat 23.00 sec, tekhnis scramblenya lupa saya copas, yang jelas OLLnya lucky, crossnya tidak (6 move), dan F2Lnya mengalir lancar. Mungkin akhir bulan ini bisa sub 30 dengan improvement di F2L dan cross. Untuk LL saya tidak berani banyak berharap bisa turun secara signifikan. Masih di average 12 secs.
Pertanyaan-pertanyaan dibawah ini sering menghantui saya:
1. Haruskah mempelajari seluruh alogaritma OLL untuk dapat mencapai sub 20 secs?
2. Apakah usaha berat menghafalkan 57 alogaritma itu akan sepadan dengan hasilnya? Dan seberapa signifikan?
3. Apakah ini saatnya mempelajari x’cross dan multislotting untuk meningkatkan average solving time?
Pertanyaan pertanyaan tersebut terjawab dengan sangat memuaskan di FAQ berikut:
I only know about half of the OLL algorithms. Do you think that not knowing all of the OLL algorithms is holding me back?
I don’t think that it’s a problem as long as you can immediately respond to every single case. Especially if you know for every pattern what algorithm or pair of algorithms to use, there shouldn’t be very much difference between 2 step and 1 step OLL. I think Harris Chen was getting sub-15 with 3-step last layer, and I doubt he’s the only one.
Pertanyaan dan jawaban diatas termuat dalam FAQ website cubefreak.net. Harris chan, adalah pemegang rekor tercepat didunia (non resmi) saat ini. Dia berhasil menyelesaikan keenam sisi rubiks cube dalam waktu 6.31 detik!
Intinya adalah….adalah mungkin menembus sub 20 sec dengan 2 look OLL. So, tidak perlu minder dengan 2 look OLL jika bisa menghajar sub 20. Bagi yang masih 2 look seperti saya… Cayooooo!!!!







Last Comment